Wayang kayon diletakkan
Lakon mulai dilakukan
Rahasia dibeberkan
Peristiwa dijelaskan
Bayangan dihidupi
Cermin hati dibagi

Rayat menilai
Menerima penderitaan curang
Digusur jalan hidupnya
Digoda kemakmurannya

Lakon selesai
Penonton pulang kerumahnya Membawa hati yang bertanya tanya
Siapa tadi yang menjadi korban
Dijawabnya tanya

Untuk Bram – Karya : Iwan Fals ( Album Cikal 1991 )

View on Path

Iklan

Pesan dari kakak

Sepenggal kenangan dari kakakku almarhum Otong Idik, semoga Allah senantiasa merahmatinya aamiiin.
Menjelang kepergiannya beliau menceritakan bahwa antara sadar dan tidak seolah dikelilingi banyak cctv atau kamera lalu semua kejadian yg telah lalu diputar semua dalam layar lebar, “film” itu menggambarkan semua perbuatan dimasa lalu. Beliau berkata “alam bawah sadar itu ada dan kehidupan yg akan datang itu nyata”, membuatku merenung akan semua dosaku dimasa lalu terhadap orang tua, saudara, istri, anak-anak dan orang lain, tidak membuatku menjadi seorang yg alim namun cukup membantuku untuk berusaha menjadi lebih baik meskipun hingga saat ini seringkali aku menyakiti orang lain terutama orang2 terdekatku baik dgn perilaku ataupun ucapanku.
Selalu terngiang ucapannya, tepukan ditengkuk, gaya khas jika memanggilku dan terbayang senyum diwajahnya dgn rentetan gigi rapinya.
Pesan tersirat yg kudapat adalah bahwa Allah senantiasa mengawasi kita dan selalu ada bersama kita, tidak ada rahasia yg luput dari-Nya.
Kami memanggilnya dgn panggilan “pa kantong”…semoga tenang disana disisi-Nya. Allah will always be with you brother.

Kebahagiaan

Ketika suatu hari aku sarapan pagi seperti biasa beli kupat tahu langganan,dibelakang ada seseorang berkata “makan A” dan ternyata si bapa penjual kue sedang membuka bungkusan nasi dengan lauk seadanya lalu kubalas dengan “sok…sok” dan melanjutkan makanku, setelah selesai makan aku diam sejenak dan memperhatikan si bapa penjual kue yg asyik makan diselingi senda gurau bersama pedagang kupat tahu, di usianya yg tidak muda lagi si bapa itu dengan giatnya menjual kue dengan sepeda onthelnya…kulihat tawanya yg bebas lepas ketika bercanda dan terlihat giginya yg mulai habis…tawa yg lepas,raut wajah yg terlihat gembira,kulit keriput namun masih terlihat segar….lalu aku berpikir “mungkin saja dia lebih bahagia dari aku karena dia lebih ikhlas menjalani hidup sementara aku terus merasa kurang dan kurang”
Selalu saja lebih besar nikmat dari pada rasa syukur.
Kebahagiaan tidak dapat diukur dengan apa yg kita dapatkan karena yg didapat pun belum tentu jadi milik kita

Tertutupnya Hati

Ketika kita mendengar adzan namun kita pura2 tak mendengar atau mengabaikannya, maka lama2 telinga kita akan tertutup dengan ditempatkan ditempat yg tak terjangkau suara adzan.
Ketika kita melihat mesjid atau orang shalat namun kita pura2 tak melihat atau mangabaikannya, maka mata kita akan tertutup dengan ditempatkan ditempat yg tak ada orang shalat.
Ketika kita diajak atau diingatkan shalat namun kita sering menyepelekan atau mengabaikannya, maka hati kita akan tertutup dengan dijauhkan dari orang2 yg mengingatkan atau mengajak kita shalat.
Pada akhirnya hati kita akan mati dan dibutakan sehingga tak dapat menemukan “jalan pulang” dan akan mati dalam keadaan mengenaskan karena sang pencabut nyawa akan datang dengan bentuk yg sangat menyeramkan…bersyukurlah jika masih diberi kesempatan untuk shalat dan berterimakasihlah pada mereka yg selalu mengingatkan kita untuk shalat.

Shalat itu nagih

Saya berbincang dgn petugas keamanan dikantor dan sampai pd perbincangan ttg shalat.
Saya: saya sering lupa udah shalat apa belum,apalagi shalat isya.
Satpam : sama, tp klo blm shalat itu biasanya rasanya nagih.
Saya : makanya saya klo shalat isya mending sebelum tidur.
Satpam : iya bener, jd ga lupa ya? Hehe
Saya : bener.
Dan saya pun kembali beraktifitas, namun dlm perjalanan pulang saya teringat akan ucapan “klo blm shalat itu biasanya rasanya nagih”…hmmm…saya berfikir berarti dia sudah bisa menempatkan shalat sbg suatu kebutuhan dan jika belum melaksanakannya maka secara otomatis merasa ada yg kurang bahkan mungkin “ketagihan”…hebat (y)…selama ini saya belajar ttg shalat tp msh sering merasa shalat itu wajib, bukan butuh 😦
Shalat adalah makanan utk jiwa,seperti halnya jika kita lapar dan haus maka tubuh kita akan merasakan dampak yg tidak nyaman bahkan sakit dan berperilaku tanpa nalar,begitu pun jiwa kita,jika tidak mendapatkan makanan maka jiwa pun akan tidak nyaman bahkan sakit dan hati pun akan beku,tidak ada rasa takut pada Allah,tidak ada rasa malu akan dosa dsb…
Renungkanlah…semoga dapat membawa kita menjadi makhluk Allah yg dirahmati-Nya…amiiin.

Mencintai Dia

Ketika mencintai seseorang, kita selalu ingat padanya, sangat senang mendengar dan menyebut namanya hingga hati kita bergetar, berdebar dan berbunga, dalam tidur pun selalu memanggil namanya dan mengingat wajahnya.
Kita tak mau rasa itu berlalu dan selalu berusaha untuk mengenang keindahan bersamanya, selalu mencari cara untuk dekat denganya, kita sering melupakan sekeliling kita, yang ada hanya dia, dia dan dia.
Dia yang selalu membuat riang.
Dia yang selalu membuat bahagia.
Dia yang…dia yang…dia yang…
Rasanya hidup hampa tanpanya.
Rasanya tak guna hidup tanpanya.
…………
Mampukah kita mencintai Dia yang memiliki dia?
Mampukah kita mengingat Dia yang menciptakan dia?
Mampukah kita menyebut nama Dia lebih sering daripada menyebut nama dia?
Bergetar,berdebar,berbungakah hati kita ketika mendengar nama Dia disebut dan dikumandangkan?
Pernahkah kita berusaha untuk selalu dekat dengan Dia?
Pernahkah kita menginginkan untuk memimpikan Dia?
Dia…Dia…Dia…Yang Maha Sempurna namun seringkali kita rendahkan keberadaan-Nya dalam hati kita.
Yang Maha Memiliki juga Maha Mengetahui namun sering kita sangkal karena kita merasa sebagai pribadi yang bebas.
…..
Mencintai dia hanya menyisakan tangis dan kepedihan ketika dia pergi atau berpaling.
Mencintai Dia akan mendapat berkah dan jalan yang mudah untuk kembali kepada rahmat-Nya, Dia tidak akan pernah berpaling dari makhluk-Nya.

-Hidup adalah pilihan-